Minggu, 13 Februari 2011

Fakta Sakit kepala

Meskipun kelihatan ringan, sakit kepala tidak bisa dianggap remeh. Karena itu ada banyak mitos tentangnya. Bagaimana faktanya?
Tidak semua sakit kepala adalah migran. Presentase kasus migran hanya sekitar 15 hingga 20%.
  1. Tidak semua sakit kepala dapat diatasi dengan obat sakit kepala yang beredar di masyarakat.
  2. Kleyengan merupakan istilah yang umumnya digunakan oleh masyarakat untuk menggambarkan pusing yang berputar atau tujuh keliling. Disebut juga vertigo, merupakan pusing akibat sensasi berputar atau sekitar tubuh yang berputar. Vertigo umumnya didahului oleh sakit kepala. Bisa juga tidak. Gangguan terletak pada keseimbangan tubuh. Keseimbangan tubuh dimulai dari otak kecil dan batang otak. Jika kedua organ tersebut terganggu, dapat menimbulkan gangguan keseimbangan yang salah satunya adalah vertigo. Vertigo harus diwaspadai, karena merupakan salah satu gejala stroke.
  3. Salah satu gejala hipertensi adalah sakit kepala. Namun pernyataan "sakit kepala karena tekanan darah sedang naik" tidak sepenuhnya benar.
  4. Banyak yang beranggapan bahwa sakit kepala yang disertai muntah disebabkan oleh keletihan dan bisa hilang dengan sendirinya. Sebaiknya cari penyebab pastinya, berkonsultasilah kepada dokter.
  5. Sakit kepala akibat makan makanan / minum minuman yang terlalu dingin (brain freeze) disebabkan karena pendinginan yang cepatdi sinus bagian depan yang memicu syaraf nyeri lokal. Teori lainnya mengatakan penyebabnya adalah penyempitan pembuluh darah di langit-langit dan belakang mulut, sehingga menyebabkan aktifnya syaraf nyeri sehingga rasa nyeri menyebar ke kepala.
sumber : www.info-sehat.com  

Sakit Kepala

Sakit kepala merupakan perasaan nyeri di sekitar kepala. Sakit kepala adalah perasaan subjektif seseorang yang merasa tidak nyaman di daerah sekitar kepala. Sensasi nyeri dapat dirasakan di semua organ tubuh yang peka nyeri di daerah kepala mulai dari kulit hingga otak.
Sakit kepala terdiri dari dua, yaitu:
Sakit kepala primer
Disebut sakit kepala primer jika tidak terdapat gangguan di organ lain. Tidak ada gangguan struktural, infeksi, atau gangguan di daerah wajah atau mata. Sakit kepala primer tidak memiliki penyebab langsung, namun memiliki faktor pencetus. Empat hal yang menjadi faktor pencetus terjadinya sakit kepala:
  1. Posisi tidur kurang baik.
  2. Terlalu memaksakan diri.
  3. Sering menggertakkan gigi.
  4. Terlalu lama berada di satu posisi yang sama, misalnya saat Melihat komputer atau mikroskop. 
Sakit kepala primer terdiri dari:
  1. Sakit kepala tipe tegang
    Umumnya disebabkan oleh gaya hidup. Menurut Dr. Mursyid, staf Departemen Neurologi FKUI RSCM, saat terkena sakit kepala tipe tegang, penderita merasa penuh di kepala, tegang dari bagian belakang kepala sampai daerah belakang (punggung) dan bahu. Pemicu utamanya adalah stres dan masalah psikologi.
  2. Sakit kepala tipe kluster
    Sakit kepala ini mirip dengan sakit kepala migran. Hanya saja ada gejala lain yang menyertai. Sakit kepala dapat muncul pada beberapa hari, hilang selama berbulan-bulan, lalu muncul kembali.
  3. Sakit kepala migran
Jika dibandingkan ketiga jenis kepala tersebut, yang paling umum diderita adalah sakit kepala tipe tegang, kemudian sakit kepala migran, dan yang terakhir adalah sakit kepala tipe kluster.
Sakit kepala sekunder memiliki penyebab yang jelas, yaitu akibat penyebab lain di kepala. Contoh: infeksi gigi, sinusitis, tumor otak.
"Wajar jika seseorang menderita sakit kepala satu hingga dua kali salam sebulan. Namun sebaiknya waspada jika Anda mengalami sakit kepala lebih dari 15 hari. Apalagi jika berlangsung secara terus menerus, sehingga sulit diatasi,"ungkap Dr. Mursyid.
Sakit kepala yang semakin lama semakin berat dapat merupakan salah satu gejala sakit kepala serius. Hal tersebut sesuai dengan sifat tumor atau abses yang terus tumbuh dan mendesak tekanan di otak. Akibatnya pembuluh darah di selaput otak terdesak. Nyeri semakin lama semakin besar karena tekanan di otak semakin tinggi.
Waspadai juga jika Anda menderita sakit kepala yang berat pada pagi hari, dan lama kelamaan berkurang. Namun durasi sakit kepala tersebut semakin panjang, bahkan disertai muntah. Hal itu menandakan sistem kekebalan tubuh yang kurang bagus. Sakit kepala jenis ini dapat menjalar ke tungkai atau lengan, dan dapat berujung pada stroke.
Demikian pula halnya jika Anda menderita sakit kepala yang disertai muntah, pandangan kabur, dan biasanya menyerang pada pagi hari saat bangun tidur. Hal ini merupakan tanda peningkatan tekanan di otak. Belum tentu tumor, tetapi ada benda yang menekan otak.
Tidak perlu tergesa-gesa mengkonsumsi obat. Sakit epala ringan dapat diredam hanya dengan beristirahat. Jika ternyata istirahat ternyata tidak mampu menyembuhkan, maka Anda boleh mengkonsumsi obat sakit kepala biasa (analgetik). Seringkali terjadi kesalahan dalam pengobatan. Jika obat tidak sesuai, ada peningkatan dosis dan pada akhirnya sakit kepala menjadi kronik, sehingga agak sulit mengatasinya. Lama-kelamaan mengkonsumsi obatpun jadi tidak mempan.
Baik sakit kepala primer, dan sekunder, sebaiknya hilangkan terlebih dahulu penyebabnya. Jika sakit kepala Anda terjadi karena stres, maka jauhilah stres. Jika sakit kepala Anda terjadi akibat infeksi, obatilah terlebih dahulu.
Hindari sakit kepala dengan gaya hidup sehat, seperti bekerja tidak terlalu berat, cukup beristirahat, dan jauhi stres.

sumber : www.info-sehat.com  

Rokok dan Konsumsi Daging yang Diawetkan

Penelitian yang dilakukan di Harvard School of Public Health, Boston, AS menunjukkan pria perokok beresiko lebih besar menderita pembengkakan paru (bronnkhitis parah) bila mereka terlalu banyak mengkonsumsi daging yang diawetkan.
Daging yang diawetkan seperti bacon, sosis, memiliki kandungan nitrit yang tinggi. Nitrit berguna untuk mencegah daging membusuk, menghambat pertumbuhan bakteri, dan menguatkan warna kemerahan pada daging.
Sama seperti kebiasaan merokok atau polusi udara, nitrit menciptakan molekul-molekul yang dikenal sebagai reaktif oksigen. Nitrit juga menghasilkan jenis nitrogen yang berkaitan dengan penyakit paru-paru kronis, seperti yang dikatakan Dr. Raphaelle Varraso dan rekannya. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Varraso dan rekannya menemukan bahwa mengkonsumsi daging yang diawetkan dapat memperburuk terkena resiko paru-paru kronis. Namun penyebab utamanya adalah rokok.
Yuk, berhenti merokok dari sekarang!

sumber : www.info-sehat.com  

Bahayanya Klorin

Dr. Alfred Bernard dari Belgia meneliti dampak klorin terhadap anak-anak. Studi ini melibatkan 341 anak berusia 10 hingga 13 tahu, 43 anak di antaranya pernah mengikuti kursus renang bayi dan balita. Informasi mengenai kesehatan pernafasan anak (gejala pernafasan selama 12 bulan, diagnosa asma oleh dokter serta kejadian bronkhitis berulang), paparan anak terhadap resiko asma dan alergi diperoleh dari kuestioner yang diisi oleh para orangtua. Mereka juga menjalani pemeriksaan medis dan skrining asma.
Hasilnya, anak-anak yang rutin berenang semasa kecil menunjukkan penurunan protein sel (serum Clara) yang signifikan - rata-rata 20%. Kondisi ini dihubungkan dengan resiko asma dan bronkhitis berulang yang tingggi bisa disetarakan dengan yang terjadi pada orang dewasa akibat rokok dan zat kimia industri.
Dr. Bernard dan tim menyimpulkan latihan renang pada anak kecil terutama di kolam renang indoor diasosiasikan dengan perubahan jalan nafas (bersama dengan faktor-faktor lainnya) dapat membuat anak rentan mengalami asma dan bronkhitis. Apa yang membuat bayi lebih rentan? Usia menjadi faktor yang ikut berperan. Resiko berkembangnya asma atau peradangan paru tampak paling tinggi saat anak secara teratur berlatih renang di bawah usia 7 tahun. Para ahli menduga kepekaan yang lebih tinggi akan klorin pada anak disebabkan karena sebelum berusia 6 hingga 7 tahun, anak biasanya belum mahir berenang sehingga mereka terpaksa berenang di kolam kecil yang padat dan terpolusi. Anak kemungkinan besar menghirup lebih banyak aerosol dan menelan banyak air yang mengandung klorin saat blajar atau bermain air.
Penjelasan lainnya, kemungkinan paru-paru anak belum berkembang, sehingga mereka rentan terhadap efek iritasi klorin dan turunannya. Walaupun mereka hanya sebentar berada di dalam kolam (sekitar 20 hingga 30 menit setiap kali).
Selain itu, para peneliti menduga bahwa klorin (terutama trikloramin) yang dihirup anak-anak secara berulang dapat merusak jaringan epitel jalan nafas. Kadar klorin pada kolam renang yang diteliti berada di bawah batasan WHO, yaitu 500 g/m3 per 2 jam. Namun dari hasil penelitian di Belgia, tampak bahwa kadar yang lebih rendah dapat mengganggu kesehatan pernafasan.
Tidak apa sesekali membawa Si Kecil berenang. Namun seringnya frekuensi dapat membuat pernafasan dan kulit anak terpapar klorin yang berlebih. Para peneliti menyarankan kepada orangtua untuk lebih berhati-hati membawa anak berenang, khususnya di kolam renang yang tidak terawat dengan baik. Waspadalah terhadap kolam renang dengan bau kaporit yang mencolok. Kemungkinan air dan udara di sekitar kolam mengandung kadar klorin yang tinggi. Anda juga bisa mengatur agar jadwal renang anak tidak terlalu padat untuk menghindari meiningkatnya kadar trikloramin yang dilepaskan ke udara.
Klorin efektif menjaga kebersihan air. Tapi mengingat bahayanya, belakangan ini mulai dikombinasikan dengan metode ionisasi, hidrogen peroksida, sinar UV, atau dengan kombinasi potassium monopersulfate serta ionisasi. Semua itu dilakukan untuk mengurangi kadar klorin secara signifikan dalam kolam renang dengan fungsi yang sama efektif.

sumber : www.info-sehat.com  

Kandungan Klorin Dalam Kolam renang

Saat berenang, tanpa sadar kita mengeluarkan zat organik berkomponen nitrogen seperti keringat, ludah, dan urin. Jika klorin berbaur dengan zat organik berkomponen nitrogen akan menghasilkan zat-zat sisa yang berbahaya, contohnya kloramin. Sebagian kloramin larut dalam air. Selain itu ada juga yang dilepaskan ke udara (trikloramin), dan membuat area sekitar kolam renang beraroma khas kaporit. Konsentrasi tertinggi kloramin di udara ada pada jarak terdekat, yaitu udara di atas permukaan air kolam. Karena alasan kebersihan, pengelola kolam renang memperbanyak klorin tanpa tahu batasannya. Padahal konsentrasi klorin yang tinggi seringkali menyebabkan zat berbahaya terserap tubuh secara berlebihan melalui kulit. Demikian juga dengan masalah pernafasan.
Hal ini diperparah dengan adanya kolam renang indoor (dalam ruangan). Idealnya kolam renang dibangun di area terbuka karena pergerakan udara di atas permukaan air dapat mengurangi konsentrasi kloramin. Pada kolam renang indoor, trikloramin bisa terperangkap di udara dalam ruangan, terlebih lagi jika kolam renang tresebut tidak memiliki plafon ruangan yang tinggi dan ventilasi yang baik.
Jika Anda dapat menghirup bau klorin di kolam artinya kadar klorin dalam air tergolong tinggi dan berbahaya. Oleh karena itu, tidak hanya perenang namun petugas yang membersihkan kolam juga ikut terganggu. Siapa saja yang rentan? Para atlet atau orang yang seringkali berenang dan anak-anak. Trikloramin dilepaskan ke udara saat terjadi pergerakan dalam air. Semakin  banyak pergerakan yang terjadi dalam air, maka semakin banyak juga trikloramin yang dilepaskan. Bagaimana dengan anak-anak? Sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang sempurna, anak-anak juga lebih banyak menghirup udara per unit badan dibandingkan orang dewasa.

sumber : www.info-sehat.com  

Shift Malam Vs Kanker

International Agency for Research on Cancer (IARC) yang merupakan sebuah unit WHO melaporkan bahwa bekerja malam kemungkinan bersifat karsinogenik, atau menyebabkan kanker. Artinya, baru terdapat bukti yang terbatas tentang kanker pada manusia, namun telah diperoleh bukti pada hewan percobaan. Wanita yang bekerja malam cukup lama menghadapi resiko kanker payudara lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang hanya bekerja siang hari.
Para periset mengatakan bekerja dengan shift mengganggu jam biologis tubuh. Padahal, jam internal ini mengatur ritme circaidan, suatu sistem kompleks yang memberi sinyal pada sel-sel untuk memproduksi hormon di berbagai kesempatan. Gangguan ritme circadian inilah yang mungkin bisa bersifat karsiogenik atau menyebabkan kanker.
Pekerjaan shift paling banyak ditemukan dalam sektor layanan kesehatan, transportasi, industri, komunikasi, dan rumah sakit.
Para periset melakukan suatu tinjauan pada studi epidemiologi. Data berdasarkan kasus kanker payudara di kalangan perawat dan pramugari. Diperkuat dengan studi pada hewan yang menunjukkan paparan terhadap cahaya yang terus menerus, cahaya redup di malam hari, serta simulasi jet lag memicu perkembangan tumor secara signifikan.
Salah satu meningkatnya resiko kanker adalah sistem circadian yang terganggu karena adanya paparan terhadap cahaya di malam hari. Keadaaan ini mengubah pola tidur, menekan produksi hormon melatonin, dan mengacaukan gen yang mengendalikan perkembangan tumor. Namun Cogliano dari IARC menyatakan, faktor apa saja yang membuat pekerjaan dengan shift menyebabkan kanker masih perlu diteliti. IARC berencana melakukan tinjauan kembali selama lima tahun mendatang ketika lebih banyak bukti yang ditemukan.
Fred Hutchison di Amerika Serikat menemukan bahwa wanita yang bekerja malam memiliki resiko kanker payudara 60% lebih besar. Hal ini kemungkinan berhubungan dengan respons tubuh terhadap cahaya. Setelah tubuh terpapar cahaya matahari atau cahaya buatan, lalu berada pada kondisi gelap, kelenjar pineal di otak memproduksi hormon melatonin. Produksi ini terganggu jika seseorang tetap terjaga di malam hari dengan lampu menyala. Melatonin juga berfungsi sebagai antioksidan yang melindungi DNA dari jenis kerusakan yang dapat menyebabkan kanker atau serangan jantung.
Pakar lainnya mengingatkan, ada kemungkinan bahwa orang biasa yang bekerja malam mungkin juga memiliki perilaku yang meningkatkan resiko kanker. Seperti: kecenderungan lebih tinggi untuk minum alkohol, merokok, serta kurangnya beristirahat.
Sementara dalam studi lain menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara bekerja dalam shift dengan kanker prostat. Dr. Tatsuhiko Kubo dari Jepang mengatakan bahwa pekerja shift dikenal sebagai populasi yang beresiko tinggi untuk mengalami beberapa jenis kanker. Menurutnya, ada kemungkinan berkurangnya produksi hormon melatonin turut berperan, karena hormon tersebut membantu tidur dan memiliki efek anti kanker.
Studi lainnya di Jepang menunjukkan pekerja shift dan pekerja malam juga menghadapi resiko kematian lebih tinggi akibat penyakit jantung. Selain itu, efek dari faktor resiko penyakit jantung, seperti tekanan darah tinggi, obesitas, konsumsi alkohol yang berlebihan, dan merokok tampak jauh lebih kuat pada orang yang bekerja dalam shift.
Studi di University of North Carolina di Amerika Serikat menunjukkan wanita hamil yang bekerja malam hari lebih rentan untuk melahirkan prematur dibandingkan dengan mereka yang bekerja pada jam normal. Tampak bahwa kelelahan fisik seperti terlalu lama berdiri atau mengangkat barang berat, tidak memicu terjadinya kelahiran prematur. Lain halnya dengan bekerja malam. Wanita yang pada titik manapun dalam kehamilannya bekerja antara pukul 10 malam hingga 7 pagi, beresiko memiliki bayi prematur. Terdapat beberapa bukti bahwa aktivitas di dalam rahim berubah pada malam hari. Menurut para ahli, ada kemungkinan bekerja malam mengganggu jam

sumber : www.info-sehat.com